Uncategorized

Memaafkan

Seperti biasa sambil dandan ala-ala sebelum berangkat kerja… nonton Islam Itu Indah, alhamdulillah akan banyak hal bisa didapet disetiap majelis ilmu.

Tema-nya hari ini tentang senyum,,, iyaaa udah pada tau kan kalau senyum itu ibadah dan udah pada tau juga kan, kalau sedekah ngga hanya berupa materi,,, tetapi dengan senyum pun kita juga sudah bersedekah 🙂 memang,,, islam itu indah… memudahkan dan tidak mempersulit.

Tapi bukan hanya ini yg aku dapet,,, tetapi mengenai masalah sudah memaafkan tetapi menolak bertemu *untuk sementara waktu … dan ini yg sedang jadi pergumulan aku di sebulan terakhir.

Ada hal yg bikin aku merasa kesal dan marah terhadap seseorang, namun… hal itu sudah aku anggap tidak masalah lagi, aku sudah memaafkan… hanya saja, jujur aku memilih menghindar untuk sementara waktu. Aku ngga mau bertemu karena masih canggung, aku takut masih sulit untuk melempar senyum untuknya. Kekhawatiran aku adalah takut justru sikapku lah yg nanti akan menyakiti dia. Aku akan bisa bertemu dia ketika aku siap nanti… intinya aku sudah memaafkan dia.

Ada beberapa orang yg menganggap sikap aku salah, Ada pertanyaan yg masalahnya sama dengan aku,,, dan tapi… ketika denger jawaban Ustad program acara itu, aku kaget dan bikin aku lega… ini ada kisah tentang Rasulullah Muhammad SAW terhadap Wahsyi… dan ini kisah lengkapnya yg aku cari di google :

Sumber : Shahih Bukhari No. 3764 Bab Perang:

Wahsyi berkata, “Aku tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana, aku lalu keluar menuju Thaif, ketika penduduk Tha’if mengutus beberapa utusan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka salah seorang utusan berkata kepadaku, “Beliau tidak akan menyakiti utusan.” Wahsyi melanajutkan, “Aku pun pergi bersama mereka sampai aku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya: “Apakah engkau wahsyi?” aku menjawab, “Benar.” Beliau bersabda: “Apakah kamu yang telah membunuh Hamzah?” Wahsyi menjawab, “Perkara itu sebagaimana yang telah sampai kepada anda.” Beliau bersabda: “Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?”

Wahsyi berkata, “Lalu aku kembali pulang. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, muncullah Musailamah Al Kadzab, aku berkata, “Aku akan berusaha mencari Musailamah, semoga aku dapat membunuhnya dan menebus kesalahanku karena membunuh Hamzah, “

Musnad Ahmad 15497: Wahsy berkata; dan itulah apa yang akan menjadi janjiku. Ketika orang-orang balik pulang, sayapun bersama mereka. (Wahsy) berkata; saya tinggal di Makkah sampai Islam tersebar di sana. Saya keluar ke Thaif. lalu Rasulllah Shallallahu’alaihiwasallam mengirimkan suatu utusan kepadaku, dan mengajakku bicara, sang utusan mengatakan bahwa beliau tidak marah terhadapnya. Aku pun pergi bersama mereka sampai aku temui Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Ketika beliau melihatku, beliau bertanya, “Apakah engkau wahsy?” saya menjawab, “Benar”. Beliau bersabda: “Kamu yang telah membunuh Hamzah?” (Wahsy) berkata; urusan tentang pembunuhan itu telah sampai kepada anda, Wahai Rasulullah”, dan beliau bersabda: “Dapatkah kamu menjauhkan wajahmu dariku?” (Wahsy) berkata; lalu saya kembali pulang, ketika Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam meninggal dan muncul nabi palsu Musailamah Al Kadzab, saya bertekad, “Sayan akan menjumpai Musailamah, semoga saya dapat membunuhnya dan menebus kesalahan karena membunuh Hamzah”,

Adakah salah seorang dari kita akan berani menyebut Rasulullah SAW seorang pendendam hanya karena beliau menolak melihat wajah Wahsyi didekatnya atas kesalahan dia membunuh Hamzah ??? Aku rasa,,, riwayat seperti ini harus dibaca dengan pertimbangan ilmu psikologi juga sehingga kita tidak kemudian salah menjatuhkan fitnah terhadap sikap Rasulullah.

Intinya,,, sah dan boleh-boleh saja bila pada satu kesempatan ada orang yang berbuat salah pada kita dan hal itu kita anggap sangat melukai hati kita, susah buat kita untuk tidak terjebak pada dosa atau khilaf bila melihat orang tersebut didepan kita maka maafkanlah ia namun berilah jarak antara kita dan mereka, jarak bukan dalam artian hendak memutus silaturahmi, tetapi jarak untuk saling menjaga perasaan saja,,, jarak yang membuat pihak yang telah bersalah untuk belajar dan melakukan perbaikan dirinya secara sungguh-sungguh.

Advertisements

3 thoughts on “Memaafkan

  1. jarak yang membuat pihak yang telah bersalah untuk belajar dan melakukan perbaikan dirinya secara sungguh-sungguh.

    >> hmm…. #manggut2

  2. pantes yah, ada sahabat yang diganjar surga padahal biasa2 aja secara ibadah. hanya sebelum tidur sll instrospeksi dan memaafkan semua kesalahan orang-orang di sekitarnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s